Blogger news

Rabu, 14 Desember 2011

batik Indonesia diklaim oleh Malaysia

<batik malasia
Sudah banyak budaya kita yang diklaim oleh Malaysia, misalnya bamboo malay yang ternyata sangat mirip dengan angklung, klaim lagu Rasa Sayange rakyat Maluku, Lagu jali-jali, Batik, bahkan kata-kata “cape deh…!” bisa diklaim Malaysia sebagai bahasa gaulnya…
Sebenarnya yang mau saya bahas adalah masalah utamanya. Banyak orang bilang bahwa Indonesia dinilai terlambat untuk mengklaim budayanya, sehingga hak cipta suatu budaya di Indonesia masih belum jelas. Walaupun sekarang Indonesia mulai tergerak pada hal itu, namun budaya Indonesia sudah banyak yang diklaim oleh Malaysia.
–Batik Indonesia

malasia

budayaNegara tetangga kembali berulah dengan melakukan klaim terhadap kebudayaan kita lagi. Kali ini yg menjadi sasaran adalah tari pendet asal Bali. Mereka menggunakannya utk iklan pariwisata malaysia. Setelah mereka “mengirim” teroris ke Indonesia, sekarang mereka mau “mencuri” kebudayaan Indonesia. Huh.. :(. Mereka begitu jeli memanfaatkan situasi dimana sebagian besar rakyat Indonesia sudah tidak begitu memperhatikan kebudayaannya sendiri. Situasi dimana rakyat Indonesia lebih bangga jika menggunakan yg berbau luar dan asing. Situasi dimana, kebudayaan2 tersebut sudah jarang dan hampir punah mungkin dari bumi pertiwi, dikarenakan hanya sedikit orang yg mau tetap melestarikannya. Saya masih ingat, ketika kecil kita sering bermain kuda lumping, dakon, gobak sodor dll. Tapi sekarang, anak2 lebih suka dengan Play Station, bermain ke Time Zone, nonton TV acara2 yg ngga bermutu. Media televisi, juga dengan latahnya mengikuti trend ini. Praktis, mungkin hanya TVRI yg cukup konsisten menayangkan acara budaya2 Indonesia, disamping TV2 lokal tentunya. Dan itupun pemirsanya cuman sedikit.

negara tetangga berulah kembali (malasia)




Klaim Malaysia atas batik sangat meresahkan perajin batik Indonesia. Bangsa ini harus segera menghapus bayang-bayang yang meresahkan itu agar perajin batik Indonesia di kemudian hari tidak perlu memberi royalti kepada negara lain.

Perajin batik Pekalongan, Romi Oktabirawa, mengatakan hal itu dalam pembentukan Forum Masyarakat Batik Indonesia di Jakarta. Romi mengatakan, generasi batik masa lampau hanya melihat kompetisi antarperajin di dalam negeri. Kini, sudah saatnya perajin batik bersatu, menunjukkan eksistensi bahwa batik adalah warisan budaya Indonesia.

Untuk melestarikannya, Pemerintah Indonesia akan menominasikan batik Indonesia untuk dikukuhkan oleh Unesco sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage).

Budaya Indonesia diklaim oleh Malaysia

<batik malasia
Sudah banyak budaya kita yang diklaim oleh Malaysia, misalnya bamboo malay yang ternyata sangat mirip dengan angklung, klaim lagu Rasa Sayange rakyat Maluku, Lagu jali-jali, Batik, bahkan kata-kata “cape deh…!” bisa diklaim Malaysia sebagai bahasa gaulnya…
Sebenarnya yang mau saya bahas adalah masalah utamanya. Banyak orang bilang bahwa Indonesia dinilai terlambat untuk mengklaim budayanya, sehingga hak cipta suatu budaya di Indonesia masih belum jelas. Walaupun sekarang Indonesia mulai tergerak pada hal itu, namun budaya Indonesia sudah banyak yang diklaim oleh Malaysia.
–Batik Indonesia

Minggu, 11 Desember 2011

Perahu Baganduang

Foto 1 dari &nbsp;2Perahu Baganduang
Festival Perahu Baganduang merupakan sebuah atraksi budaya khas masyarakat Kuantan Mudik berupa parade sampan tradisional yang dihiasi berbagai ornamen dan warna-warni yang menarik. Festival menghias sampan tradisional ini diselenggarakan pada saat memasuki Hari Raya Idulfitri. Perahu baganduang mempunyai arti dua atau tiga perahu yang dirangkai/diikat menjadi satu (diganduang) menggunakan bambu dan dihiasi oleh berbagai simbol adat yang berwarna-warni. Tiap desa yang ada di daerah Kuantan Mudik dalam festival ini biasanya mengirimkan perwakilan perahunya untuk dinilai. Dewan jurinya terdiri dari tokoh adat dan ninik mamak yang akan menilai keindahan dan kelengkapan adat yang ada pada perahu peserta. Perahu peserta yang memiliki kriteria lebih, dari sisi keindahan dan adat, akan ditetapkan sebagai pemenang.

Festival yang merupakan simbol adat masyarakat Kuantan ini sebenarnya memiliki sejarah panjang. Konon, tradisi berlayar dengan perahu baganduang telah ada semenjak masa kerajaan-kerajaan dahulu. Perahu ini biasanya dipakai oleh raja sebagai sarana transportasi. Lambat laun tradisi berlayar ini kemudian dipakai untuk mengantar air jeruk (limau) oleh menantu ke rumah mertua dalam tradisi menyambut Hari Raya Idulfitri. Dalam tradisi masyarakat Kuantan, memang terdapat kebiasaan ritual mandi jeruk (mandi balimau), sebagai simbol perbersihan diri pada pagi hari menjelang Hari Raya Idulfitri. Nah, kebiasaan menggunakan perahu tersebut dirawat dan dipelihara masyarakat setempat dan kini diwujudkan melalui Festival Perahu Baganduang.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review